Sifat Kebuddhaan Tidak Bertambah Dan Tidak Berkurang
Ketika masih banyak hal yang belum diketahui dan pikiran sering kali tidak tenang, mudah untuk berpikir bahwa seseorang tidak memiliki kemungkinan untuk bangkit. Sebaliknya, setelah mendapat pengalaman khusus dalam praktik atau sedikit pemahaman tentang ajaran yang sulit, seseorang mungkin berpikir bahwa sifat yang lebih besar baru saja diperoleh. Namun kebangkitan bukanlah pekerjaan menciptakan dan melekatkan sifat yang tidak ada. Hal ini berarti meninggalkan ketidaktahuan akan apa yang selalu terjadi dan mengenalinya dengan jelas.
Hal ini tidak boleh diartikan bahwa tidak diperlukan upaya apa pun. Meskipun nada referensi tetap konstan, musik akan menjadi tidak selaras jika instrumen tidak disetel. Ajaran bahwa sifat kebuddhaan tidak berkurang bukanlah alasan untuk bermalas-malasan; itu adalah penyemangat untuk tidak menyerah, karena tidak ada seorang pun yang ditinggalkan sejak awal, dan teruslah berkultivasi.
Bayangkan sebuah ruang latihan musik yang tenang. Ketika seorang pemula melewatkan nada cello, nada referensi tidak menjadi lebih kecil atau hilang. Ketika permainan menjadi akurat, nada referensi tidak menjadi lebih besar. Nadanya tetap apa adanya; pemain membuka telinga, mendengarkan, dan menyelaraskan senar. Jika salah, pemain mendengarkan lagi; tanpa membual setelah mendekat, pemain merilekskan seluruh tubuh dan menyetel lagi dan lagi.
Latihannya seperti ini. Bahkan ketika keserakahan, kemarahan, dan khayalan mengaburkan kemampuan kita untuk mengenali sifat asli kita, kemungkinan kebangkitan tidak hilang. Bahkan ketika latihan menjernihkan pikiran, kita tidak memperoleh diri atau jiwa baru. Kita melepaskan keterikatan yang menyelimuti kita dan melihat dengan jelas apa yang sebelumnya tidak terlihat.
Oleh karena itu, jangan menganggap dirimu kekurangan. Pada saat yang sama, jangan berhenti dengan mengatakan, “Saya pada mulanya sudah lengkap, jadi saya tidak perlu berkultivasi lebih lanjut.” Rendah diri menghilangkan kemungkinan yang sudah ada, dan kesombongan menghalangi kita untuk melihat kekeruhan yang tersisa. Lepaskan kedua hal ekstrem dan dengan tenang sesuaikan kata-kata dan tindakan hari ini.
Sifat kebuddhaan tidak berarti benda yang saya miliki atau jiwa individu yang tidak berubah. Ini bukanlah sesuatu yang tetap untuk dianggap sebagai “milikku”; ini menunjuk pada kemungkinan kebangkitan, terbuka untuk semua orang dan terungkap melalui latihan dan kondisi. Ini bukanlah bukti bahwa saya lebih baik dari orang lain dan bukan pula suatu keputusan bahwa saya lebih buruk. Ketika kesadaran semakin dalam, perbandingan akan berkurang dan tindakan penuh kasih akan meningkat.
Hari ini, dengarkan sekali lagi nada referensi pikiran. Sebelum berbicara ketika kemarahan meningkat, berhentilah sejenak; ketika keinginan datang lebih dulu, lihatlah ke arah orang di sampingmu; dan bila belum tahu, pelajari lagi dengan jujur. Memercayai sifat asli bukan berarti meninggikan diri, tetapi tetap menyelaraskan diri dengan benar tanpa menyerah.
Hakikat Kebuddhaan tidak berkurang karena seseorang adalah makhluk biasa, dan tidak bertambah karena seseorang adalah seorang Tathagata. Ini bukanlah jiwa atau kepemilikan dalam diri saya, tetapi kemungkinan kebangkitan yang terungkap melalui latihan dan kondisi. Jangan menyerah pada diri sendiri, dan jangan berhenti seolah-olah semuanya sudah selesai; lanjutkan latihan yang bisa kamu lakukan hari ini.